ayah dan secangkir TEH hangatnya
05.44
Hari ini adalah Hari Raya, aku terbangun dari tempat tidurku
lalu membasuh mukaku, kemudian aku melihat jam yang terpantul di depan cermin
itu, dan ternyata aku terbangun terlalu siang dan hampir tidak
menghadiri ibadah tahunan, lantas akupun menganti pakaianku lalu pergi ke pusat
ibadah itu. dan untungnya aku masih sempat untuk mengikutinya.
setelah itu akupun pergi ke rumah dimana semua keluargaku
berkumpul, di sana aku bertemu dengan semua keluargaku walaupun keluarga ini
tidak sangat besar tetapi begitu terasa hangat ketika aku berada di samping
mereka.
kami berkumpul di ruang keluarga dan menyantap ketupat dan
opor ayam bersama, nenek dan mamahku yang membuatnya dan para paman dan tanteku
membuat berbagai macam kue seperti nastar,kastengel, putri salju, semprit dan
masih banyak yang lainya.
aku duduku di sebuah sofa bersama sepupuku, aku bertukar
cerita tetang perkuliahan, dan bertanya tetang materi materi yang ia dapatkan
dari program studi itu. ketika kami sedang berbagi cerita bersama, datanglah
neneku dengan SECANGKIR TEH hangat di tangannya. ia duduk di samping ku lalu
menyeruput teh buatan mamahku lalu mimik mukanya berubah dan menjadi terlihat
sedih. Akupun bertanya kepadanya mengapa ia bisa sedih. Lalu ia pun bercerita
bahwa ia teringat akan sosok ayahku yang sekaligus adalah anaknya, ia pun
menangis dan memelukku dan air mataku keluar dengan sendirinya. Kemudian pamanku
melihatnya dan semua keluarga menghamiriku, mereka menasehatinya agar bisa
merelakan kepergian anaknya.
Kemudian ia kembali bererita bahwa ia teringat anaknya
karena anaknya sering membuatkan secangkir teh hangat yang ia sukai, rasanya,
aromanya, masih terasa jelas di lidahnya dan hingga sekarang ia belum bisa merasakan rasa secangkir teh yang hangat itu. Ia telah mencoba berbagai teh dari berbagai orang, tetapi ia tidak bisa merasakan rasa teh itu kembali.
akupun
berinisiatif untuk mencoba membuatkan secangkir teh hangat untuknya, aku pernah melihat
dan di ajari sedikit membuat secagkir teh hangat, setelah selesai membuatnya
akupun menghampiri neneku.
Nenek ku yang terpuruk, berubah ekspresinya ketika mencium
aroma teh ini dan akupun memberikannya, dan ia pun menyeruput secangkir teh
hangat itu.
Ia pun menikmatinya dan kembali menagis bahagia, ia terdiam
dan menyimpan cangkir itu ke meja di sampingnya dan bertanya bagaimana aku bisa membuatnya ?
lalu akupun memberi tahu neneku bahwa bukan teh dan siapa orang yang membuatnya tetapi soal rasa yang ia tanamkan di dalam proses pembuatan nya, teh ayah terasa enak karena ia membuatnya dengan suka cita hanya itulah yang membedakannya, tetapi begitu berpengaruh terhadap sebuah rasa.
nenekpun terdiam dan mengajak untuk berjiarah ke makam suami
dan anaknya.
Itulah cerita di hari rayaku menikmati sedihnya suasa meminum
SECANGKIR TEH di dalam ruang
keluraga.
Dan sejak saat itu aku pun sekarang sering membuatkanya
seangkir teh hangat untuk neneku hingga ajal menjemputnya.
kini nenek pergi ke tempat ayah berada, dan hanya sebuah cerita yang masih tertanam di dalam raga.
dan ini adalah hari raya yang terasa sangat sepi tanpa kehadiran nenek dan ayahku,
hari telah malam dan akupun pergi ketempat tidurku, aku memejamkan mata lalu tertidur, dan di dalam mimpiku, aku melihat nenek dan kakek di sebuah meja makan ruang keluarga sedang tersenyum ke arah ku dan datanglah ayahku membawakan secangkir teh hangatnya dan tersenyum ke arahku. akupun terdiam lalu seketika terbagun dari mimpiku.
dan itulah sebuah kisah tentang ayah dan secangkir teh hangatnya.
aku akan mengingatnya dengan secangkir teh dan juga sebuah tulisan ini.
catatan :
ceita ini hanya sebuah karangan semata. ( fiksi )
#nuliskilat #Salamkilat #SalamLiterasi
tulisan ini di buat untuk mengikuti tantangan dari @storialco menulis sebuah cerita dengan 300 hingga 700 kata dengan tema : hari raya dengan obyek khusus : minuman teh dengan latar : ruang keluarga.
16 februari 2018 / 8 :38 PM
0 komentar