the immortal flower : ( I) aku taman dan kakek

21.08

I


di pagi hari yang cerah ini, bunga di taman itu bermekaran begitu indah dan menyejukkan hati, di tambah lagi udara dingin yang kian menguatkan rasa, membuat suasana lebih bersahaja.

aku adalah seorang penjual bunga di sebuah toko seberang taman bunga yang di miliki oleh kakeku. aku melakukan pekerjaan ini bukan hanya untuk uang semata, tetapi aku sangat sekali suka dengan bunga, mungkin karena aku di besarkan oleh seorang kakek tua yang mempunyai kebun bunga dan sering sekali melihat nya, membuat hatiku terjatuh dan ingin merawatnya, tetapi sayang sekali kakeku tak mengizinkanku untuk membantunya di taman miliknya, dan sekarang aku hanya bisa menjual dan merawat bunga yang ada di toko ini.

lokasi kebun kakekku tidak jauh dari sebuah kota, hanya memakan waktu hingga 10 menit berjalan, hingga sampai lah di sana.
luas kebun kakek seluas lapangan sepakbola, di penuhi dengan bunga-bunga berbagai warna, aroma nya begitu sangat berbeda.
di sini, di kebun yang seluas sepakbola ini, kakek hanya bekerja seorang diri, dan tidak ingin di bantu oleh siapapun itu, walaupun itu denganku.
mungkin, itu telah menjadi pekerjaan kesayangannya, karena dia telah merawatnya bersama sang istri yang telah tiada, menjadikan sebuah kenangan yang tidak bisa dia lupakan.

namun pada suatu hari, seseorang dengan seragam rapi berdasi merah datang ke kebun kakek, ia ingin berbicara dengan sang pemilik kebun, ia berniat membeli taman kakek dan membuat sebuah restoran di sana. lantas, kakek menolak dengan tegas dan menyuruh dia untuk pergi.
dan aku lihat raut wajahnya, begitu teramat sedih, sambil memandang sebuah foto istrinya di taman bunga yang dia sukai, lalu aku menghampiri kakek, tetapi dia pergi dan berkata "beri aku ruang untuk sendiri"  lantas akupun terdiam dan membiarkannya sendiri.

hari demi hari aku lihat sebuah mobil sering menghampiri, mobil mewah nan megah, yang panjang sekali, atapnya bisa terbuka dan di penuhi oleh gadis bertopi.
entah apa yang mereka inginkan, tetapi mungkin itu akan berdampak buruk bagi kakeku. keesokan harinya ia mengunjungi tokoku, dia ingin bernegosiasi denganku, dan ingin memberi uang yang harganya sebesar 3 buah rumah mewah di tengah kota, jika aku bisa membujuk kakek untuk menjual tamannya itu, dia berencana untuk membangun sebuah restoran yang dia idamkan, dan berniat membeli taman kakek seharga 7 buah rumah mewah tengah kota, karena lokasi dan pemandangan yang sangat dia sukai dan pasti menguntungkan baginya. tetapi, walaupun di imingi uang yang begitu banyaknya, menurut ku uang itu bukan segalanya, uang hanyalah selembar kertas yang takkan bisa menggantikan kebahagian, aku tersadar, bila taman itu terjual, kakek akan merasa sedih dan kecewa kepadaku, walaupun semua bisa di beli dengan uang, tetapi tidak dengan keluarga, tidak dengan kasih sayang yang tulus. lantas, aku pun menolak dan menyuruh mereka pergi dengan sopannya sambil menundukan kepala, tetapi aku melihat muka sang peminta itu begitu teramat marah, matanya begitu tajam mengarah kepadaku lalu dia pergi meninggalkan toko.

Hingga sampailah di sebuah malam, ketika kakek begitu gelisah dan ingin pergi ke tamannya, aku tak tau apa yang terjadi, karena aku begitu lelah dengan acara bunga yang temanku adakah, dan akupun tertidur tanpa bertanya kepada kakek.
keesokan harinya, di pagi yang dingin itu aku mencari kakek untuk mengajaknya sarapan, tetapi dia tidak ada di rumah dan di toko, lantas aku pun bergegas pergi ke taman untuk mencarinya, dan itu adalah pengalaman yang sangat menyedihkan yang  pernah aku alami, kakekku terbaring sambil memeluk batu nisan istrinya dengan darah yang mengalir di kepala dan aku pun bergegas meminta pertolongan, namun itu sudah terlambat.

dia telah meninggalkan ku seorang diri di sini, aku menaggis di depan ruangannya, aku tak bisa berkata apapun, aku tak  bisa berbuat apapun. Andai saja, andai saja aku tidak kelelahan di malam hari. pasti, pasti takkan terjadi  kejadian seperti ini.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images